Senin, 04 Oktober 2010

BISNIS IT (REKAM MEDIS ELEKTRONIK)

Komputerisasi rekam medis sebenarnya bukan sesuatu yang baru. Pada tahun 1994, MMR UUGM pernah mengadakan seminar bertajuk “Menuju komputerisasi rekam medis”. Saat ini, di klinik yang khusus melayani para pegawai dan mahasiswa di UGM (GMC= Gadjah Mada Medical Centre) dokternya tidak lagi menggunakan status rekam medis kertas. Mouse dan keyboard sudah menggantikan pena untuk mencatat gejala, hasil observasi, diagnosis sampai dengan pengobatan. Namun, hingga kini hanya klinik tersebut satu-satunya fasilitas kesehatan yang menggunakan rekam medis elektronik (RME) di Jogja. Meski hanya untuk melayani pasien rawat jalan, itu sudah lumayan.

Pada dasarnya rekam medis elektronik adalah penggunaan metode elektronik untuk pengumpulan, penyimpanan, pengolahan serta pengaksesan rekam medis pasien di rumah sakit yang telah tersimpan dalam suatu sistem manajemen basis data multimedia yang menghimpun berbagai sumber data medis. Dalam UU Praktik Kedokteran penjelasan pasal 46 ayat (1), yang dimaksud dengan rekam medis adalah berkas yang berisi catatan dan dokumen tentang identitas pasien, pemeriksaan, pengobatan, tindakan dan pelayanan lain yang telah diberikan kepada pasien. Pengertian yang sama juga digunakan pada Permenkes 269/2008. Jenis data rekam medis dapat berupa teks (baik yang terstruktur maupun naratif), gambar digital (jika sudah menerapkan radiologi digital), suara (misalnya suara jantung), video maupun yang berupa biosignal seperti rekaman EKG.

Yang menjadi pertanyaan adalah, mengapa proses adopsi inovasi RME di Indonesia berjalan lambat? Selain itu, yang tidak kalah pentingnya, bagaimana mempercepatnya?

Alasan klasik

Alasan klasik mengapa RME tidak berkembang dengan cepat adalah tidak adanya payung hukum yang jelas. Seringkali muncul pertanyaan, bagaimana perlindungan rumah sakit jika terjadi tuntutan kepada pasien. Bagaimana keabsahan dokumen elektronik? Jika terjadi kesalahan dalam penulisan data medis pasien, apakah perangkat elektronik memiliki fasilitas log untuk tetap dapat mencatat data yang telah dimasukkan sebelumnya dan tidak menghapus(delete) sehingga tetap bisa dikenali siapa yang memasukkan data tersebut serta jenis data yang akan diganti? Aspek regulasi dan legal memang tidak dapat menandingi kecepatan kemajuan teknologi informasi. Pada penjelasan UU Praktek Kedokteran pasal 46 dimungkinkan rekam medis tersimpan dalam bentuk elektronik. Tetapi petunjuk teknisnya hingga saat ini belum dikeluarkan oleh KKI (Konsil Kedokteran Indonesia). KKI sudah mengeluarkan Manual Rekam Medis, tetapi itupun belum menjelaskan secara rinci tentang rekam medis elektronik. Baru-baru ini, Depkes mempublikasikanPermenkes no 269/MENKES/PER/III/2008 tentang Rekam Medis sebagai pengganti Permenkes 749a/Menkes/Per/XII/1989. Tetapi ini juga tidak memberikan penjabaran secara rinci tentang rekam medis elektronik. Hanya disebutkan bahwa penyelenggaraan rekam medis dengan menggunakan teknologi informasi diatur lebih lanjut dengan peraturan tersendiri (Pasal 2 ayat 2). Di sisi lain, masyarakat banyak berharap dengan UU ITE yang baru saja disahkan oleh DPR untuk memberikan jaminan hukum terhadap transaksi elektronik. Tentu saja mengharapkan UU ITE sebagai dasar pelaksanaan rekam medis elektronik tidak mencukupi.

Di beberapa negara bagian di AS, beberapa rumah sakit hanya mencetak rekam medis jika akan dijadikan bukti hukum. Di Wan Fang Hospital, Taipei, meskipun sudah menerapkan rekam medis elektronik, rumah sakit masih memiliki bagian rekam medis untuk menyimpan hasil printout setiap data elektronik pasien yang harus ditandatangani oleh dokter.

Persoalan lain adalah ketersediaan dana. Aspek finansial menjadi persoalan penting karena harus menyiapkan infrastruktur (komputer, jaringan kabel maupun nir kabel, listrik, sistem pengamanan, konsultan, pelatihan dan lain-lain). Rumah sakit biasanya memiliki anggaran terbatas, apalagi untuk teknologi informasi.

Belum prioritas
Semua setuju bahwa bahwa sistem penagihan elektronik
(computerized billing system) di rumah sakit merupakan keharusan untuk menjamin manajemen keuangan rumah sakit yang cepat, transparan dan bertanggung jawab. Dalam piramida sistem informasi rumah sakit, billing system merupakan lapisan yang paling dasar alias sistem pengolahan transaksi. Jika billing system merupakan contoh sistem pengolahan transaksi untuk fungsi pelayanan administratif dan keuangan, maka RME adalah contoh sistem pengolahan transaksi untuk fungsi pelayanan medis.

Tidak ada kasir rumah sakit yang menolak pendapat bahwa komputer mampu memberikan pelayanan penagihan lebih cepat dan efektif dibanding sistem manual. Sebaliknya, berapa banyak dokter dan perawat yang percaya bahwa pekerjaan mereka akan menjadi lebih cepat, lebih mudah dan lebih aman dengan adanya komputer?

Ada perawat yang menolak menggunakan komputer dengan alasan bahwa tugas utama mereka adalah asuhan keperawatan sedangkan menggunakan komputer merupakan pekerjaan administratif. Sehingga, ada yang mengatakan bahwa jika generasi dokter yang sudah tua, kolot dan gaptek berganti dengan dokter muda yang computer literate maka menerapkan RME menjadi lebih mudah. Akan tetapi, sampai saat inipun masih ada mahasiswa kedokteran di AS yang menolak ide penerapan RME.

Tantangan
Dalam berbagai kesempatan, seringkali disebutkan bahwa tantangan utama pengembangan sistem informasi di rumah sakit adalah aspek finansial. Hal ini dibuktikan bahwa di berbagai negara, investasi teknologi informasi di rumah sakit rata-rata adalah 2,5% dari total anggaran mereka. Padahal, di sektor lain, dapat mencapai tiga kali lipat. Faktor kedua adalah aspek legal dan security. Masih banyak pihak yang mencurigai bahwa rekam medis elektronik tidak memiliki payung legalitas yang jelas. Hal ini juga terkait dengan upaya untuk menjamin agar data yang tersimpan dapat melindungi aspek
privacy,confidentiality maupun keamanan informasi secara umum. Sebenarnya, teknologi informasi memberikan harapan baru, yaitu teknologi enkripsi maupun berbagai penanda biometrik (sidik jari maupun pemindai retina) yang justru lebih protektif daripada tandatangan biasa. Tantangan berikutnya adalah kesiapan pengguna, dalam hal ini adalah tenaga medis. Pengalaman menunjukkan bahwa salah satu pionir pengembangan sistem pakar (expert system) adalah dunia kedokteran. Akan tetapi, sejarah menunjukkan bahwa aplikasi MYCIN (ditemukan pada awal 1970-an oleh Prof. Shortliffe, seorang ahli penyakit dalam dari Stanford University) ternyata tidak banyak diterapkan di dunia medis. Sistem tersebut, yang bertujuan membantu dokter dalam memberikan antibiotik yang tepat sesuai dengan jenis bakterinya, ternyata dianggap lambat, menghambat pekerjaan dokter, dan seakan membodohi dokter. Sistem pakar tersebut dianggap lebih cocok bagi mahasiswa kedokteran atau orang awam yang sama sekali belum pernah mendapatkan pengetahuan mengenai bagaimana memberikan terapi kepada orang sakit.
Beberapa faktor di atas akan diperparah jika manajemen rumah sakit juga tidak memiliki visi dan tujuan yang jelas mengenai pengembangan sistem informasi rumah sakit. Karena pengelolaan teknologi informasi dianggap bukan sebagai
core business di rumah sakit, rumah sakit tidak memiliki strategi pengembangan sistem informasi serta strategi pengembangan teknologi informasinya. Banyak rumah sakit di luar negeri sudah memiliki Chief Information Officer (CIO) yang khusus mengelola pengembangan sistem /teknologi informasi rumah sakit. Ketidakjelasan rumah sakit dalam pengelolaan teknologi informasi, akan berakibat pada tidak jelasnya rewarddan penghargaan kepada pekerja teknologi informasi. Mereka akan menjadi pekerja yang dianggap setara dengan pekerjaan administratif. Sehingga yang dikhawatirkan adalah sektor kesehatan akan dihindari oleh pekerja teknologi informasi yang unggul.

Peluang
Beratnya tantangan di atas tidak berarti tidak serta merta menutup peluang yang ada. Dari sisi pengguna, sebenarnya dokter yang semakin
computer literate dengan teknologi informasi juga terus meningkat. Di Kanada, lima puluh persen dokter yang berusia di bawah 35 tahun sudah menggunakan PDA. Mereka, sebagian besar memanfaatkannya untuk membaca referensi obat. Hal ini ditunjang dengan munculnya berbagai situs yang menyediakan e-book dan referensi obat yang dapat diinstall ke PDA. Salah satunya adalah epocrates (htttp://www.epocrates.com) yang menyediakan drug reference gratis untuk palmtop. Lainnya, memanfaatkan PDA untuk penjadwalan. Akan tetapi, baru sebagian kecil yang menggunakannya untuk manajemen pasien. Hal ini terkait dengan masih terbatasnya fasilitas yang user friendly untuk entry data pasien melalui PDA. Selain itu, sistem informasi rumah sakit juga harus menyediakan fasilitas untuk sinkronisasi data dari/ke PDA. Oleh karena itu, saat ini aplikasi yang berkembang mengarah kepada teknologi web yang menjanjikan portabilitas data yang lebih baik. Aplikasi ini juga didukung oleh teknologi wireless yang memungkinkan dokter dapat melakukan entry data di samping tempat tidur pasien secara langsung (computerized physician order entry)
Saat ini, penyedia aplikasi sistem informasi klinik sudah semakin banyak (khususnya di luar negeri). Para vendor tersebut juga berkompetisi untuk menunjukkan keunggulannya masing-masing. Vendor sistem informasi rumah sakit ada yang berangkat dari peranannya sebagai penyedia alat-alat medis
(medical devices), ada pula yang berbasis pengalaman sebagai pengembangan sistem. Sehingga, ada yang memiliki keunggulan sebagai penyedia sistem informasi laboratorium yang sekaligus menyediakan alat pemeriksaan laboratorium. Ada pula vendor yang menawarkan perangkat keras radiologi digital sekaligus dengan software PACS (picture archiving and communication systems) untuk mendukung sistem radiologi tanpa film konvensional (filmless). Kecenderungan pemanfaatan teknologi elektronik ini juga akan berimbas pada konsep paperless yang ditandai dengan meluruhnya peran kertas (menjadi elektronik) sebagai media perekam medis. Upaya pengembangan sistem informasi klinis ini diharapkan dapat mendongkrak mutu pelayanan (pencegahan kesalahan peresepan obat), produktivitas klinisi (rekam medis dapat diakses secara cepat dan bersama-sama), serta mendorong efisiensi (menghindari permintaan pemeriksaan laboratorium berulang dikarenakan kertas hasil pemeriksaan sebelumnya tercecer).
Bagi rumah sakit yang berbudget terbatas, aplikasi yang bersifat open source pun sebenarnya tersedia. Salah satu diantaranya adalah OpenVistA yang dikembangkan oleh Departement of Veteran Affairs AS dan tersedia dengan harga US$ 25(dua puluh lima dolar). Akan tetapi, dibalik peluang tersebut, sebenarnya masih banyak tantangan lain yang harus diselesaikan. Isu standar pertukaran data, interoperabilitas (antara alat medis dengan komputer maupun perangkat komunikasi) masih menjadi topik yang belum tuntas. Indonesia pun baru mengadopsi standar diagnosis (ICD 10), sedangkan standar yang berkaitan aspek teknologi informasi tersebut masih belum diadopsi. Oleh karena itu, memang benar pendapat salah satu pakar, teknologi informasi di rumah sakit merupakan
journey, bukan destination.

Mempercepat adopsi RME

Untuk mendorong minat dan adopsi RME, manfaat dan potensinya harus terus menerus disosialisasikan. Sebagai contoh, RME mampu menyimpan data pasien dalam jumlah yang besar hanya menggunakan perangkat komputer yang bisa dijinjing. Selain itu, rekam medis elektronik dapat memberikan peringatan jika dokter salah memberikan obat atau ada reaksi antar obat. Dalam konteks ini, sosialisasi RME harus menjadi bagian penting dalam kampanye gerakan keselamatan pasien
(patient safety). Ada pula yang menunjukkan kelebihan rekam medis elektronik dalam menyimpan data medis multimedia yang dapat diakses kapan saja dan dimana saja. Meskipun belum ada rekam medis elektronik yang benar-benar sempurna, secara teknologi sebenarnya sudah dalam fase mature.

Kegiatan sosialisasi tidak dapat berdiri sendiri. Sosialisasi RME harus dilakukan secara terus menerus dan memerlukan inisiatif tingkat nasional. Jika pemerintah serius menjadikan RME sebagai kunci untuk meningkatkan mutu pelayanan rumah sakit, maka harus ada tim yang secara serius merumuskan arah pengembangan RME. Lembaga ini harus berada di luar Ditjen Yanmed Depkes, tetapi bertanggung jawab ke direktorat tersebut. Dengan demikian dia tidak akan terbebani dengan kegiatan rutin (misalnya mengurusi pelaporan rutin rumah sakit). Mengingat sebagian besar rumah sakit di Indonesia memiliki masalah klasik keterbatasan dana, tim tersebut dapat merumuskan model standar perangkat lunak RME yang bersifat public domain. Perangkat lunak tersebut harus mengikuti kaidah-kaidah standar informatika untuk RME (mulai dari ICD, HL7, LOINC dan berbagai standar lainnya)

Selain membuat perumusan di tingkat teknis, lembaga tersebut juga semestinya merancang payung hukum yang memberi jaminan keabsahan informasi rekam medis dalam bentuk elektronik. Hal lain yang harus dipertimbangkan tentu saja menyangkut aspek keamanan, kerahasiaan dan privacy informasi medis. Model RME tersebut harus tertuang ke dalam buku putih yang akan menjadi pegangan bagi setiap stakeholder yang terlibat dalam pengembangan RME di Indonesia.

Menjadikan RME sebagai bagian dari kebutuhan dokter merupakan bagian dari proses difusi inovasi. Di setiap generasi, akan selalu ada early adoptersyang akan menjadi pionir dalam mengadopsi perkembangan terkini. Dia pulalah yang akan menjadi role model bagi sesama sejawat. Dalam berbagai literatur mengenai keberhasilan adopsi RME, aspek clinical leadership ini sering mengemuka.

Akhirnya kunci yang paling menentukan apakah RME akan diadopsi atau tidak terletak pada ada tidaknya kebutuhan, bukan teknologinya, baik menurut dokter maupun manajemen rumah sakit. Selama dokter merasa mampu memberikan pelayanan yang terbaik seperti saat ini, maka proses adopsi akan berjalan lambat. Selama pihak manajemen juga tidak memiliki persepsi yang positif dan menganggap kebutuhan informasi di tingkat manajemen hanya berkisar mengenai BOR, LOS, TOI maka RME hanya akan menjadi wacana.

Sabtu, 22 Mei 2010

Jumat, 21 Mei 2010

Computer Game

Game merupakan permainan komputer yang dibuat dengan teknik dan metode animasi. Jika ingin mendalami pengunaan animasi haruslah memahami pembuatan game. Atau jika ingin membuat game, maka haruslah memahami teknik dan metode animasi, sebab keduanya saling berkaitan.

Terdapat berbagai macam game, yaitu antara lain:

1. Fun Games

Fun games adalah permainan seperti : skate board, bilyard, catur, puzzle, tetris, golf, Windows Entertainment Pack Games dan semua permainan yang animasinya sedikit dan pembuatannya relatif mudah. Permainan semacam ini terlihat mudah dari segi grafiknya tetapi biasanya sulit dalam algoritma.


2. Arcade Games

Arcade games adalah semua permainan yang mudah dimengerti, menyenangkan dan grafiknya bagus walau biasanya sederhana. Pengertian mudah dimengerti dan menyenangkan dikarenakan permainan ini hanyalah berkisar pada hal-hal yang disenangi umum seperti pukul memukul, tembak menembak, tusuk menusuk, kejar mengejar dan semua yang mudah dan menyenangkan. Yang termasuk kedalam permainan jenis ini adalah Prince of Persia, Street Fighter, Golden Axe, Grand Prix, Robocop.


3. Strategic Games

Strategic games biasanya permainan strategi perang atau bisa juga permainan lain tetapi tetap saja memerlukan strategi untuk memenangkannya seperti startegi bisnis dan strategi politik.


4. Adventure Games

Adventure games terbagi atas tiga macam yaitu petualangan biasa (Multi Layered Adventur), Dungeon-Underworld Adventure (3D Adventure) dan Roll Playing Game Adventure. Biasanya algoritma untuk membuat game ini adalah sedang-sedang saja sampai sulit. Tapi grafik jenis permainan ini benar-benar sulit. Contoh beberapa permainan jenis ini adalah Space Quest IV, Labyrinth of Word, War II dan Diablo.


5. Simulation Games

Dari semua jenis permainan yang ada, masing-masing memiliki tingkat kesulitan dan kemudahannya, jika bukan algoritmanya maka akan mudah dalam hal animasinya, akan tetapi games simulasi bisa disebut sebagai jenis permainan yang paling sulit, baik algoritma pembuatannya maupun animasinya. Permainan jenis ini juga yang paling membuat pusing dibandingkan dengan permainan jenis lainnya. Algoritmanya sangat sulit sebab harus memperhitungkan semua kejadian dalam kondisi sebenarnya. Berbagai efek animasi yang dibuat tidak cukup bermodalkan ahli grafik dan algoritma saja, tetapi sedikitnya harus mengerti persoalan matematika, teknik dan fisika. Contoh permainan jenis ini adalah Stellar7, F-15 Strike Eagle, Flight Simulator 98, F-14 Tomcat, F-16 Falcon, Jet Fighter. [2]



Pengertian Game Engine

Engine bukanlah executable program, artinya engine tidak dijalankan sebagai program yang berdiri sendiri. Diperlukan sebuah program utama sebagai entry point atau titik awal jalannya program. Pada C++, entry point-nya adalah fungsi “main()”. Biasanya program utama ini relative pendek. Game engine adalah program yang memotori jalannya suatu program game. Kalau game diilustrasikan sebagai “music “yang keluar dari “mp3 player”, maka engine adalah “mp3 player” dan program utama adalah “data mp3” yang dimasukkan ke dalam “mp3 player” tersebut.

Dengan adanya engine, waktu, tenaga dan biaya yang dibutuhkan untuk membuat game software menjadi berkurang secara signifikan. Beberapa game dengan jenis dan gameplay yang hampir sama bisa dibuat dengan sedikit usaha bila terlebih dahulu dibuat engine-nya. Setelah engine diselesaikan,programmer hanya perlu menambahkan program utama, memakai resources (objek 3D, music, efek suara) yang baru, dan jika benar – benar dibutuhkan, sedikit memodifikasi engine sesuai kebutuhan spesifik dari game yang bersangkutan. Program game engine seluruhnya berorientasi objek. Game engine lebih bersifat reaktif daripada procedural. Sulit untuk menggambarkan

Tipe – tipe Game Engine.

Roll-your-own game engine.

Biasanya, game engine tipe ini lebih disukai karena selain kemungkinan besar tersedia gratis, juga memperbolehkan mereka, para developer, lebih fleksibel dalam mengintegrasikan komponen yang diinginkan untuk dibentuk sebagai game engine mereka sendiri. Kelemahannya, banyak engine yang dibuat dengan cara semacam ini malah menyerang balik developernya. Menara Games Studio membutuhkan satu tahun penuh untuk menyempurnakan game engine nya, hanya untuk di tulis ulang semuanya dalam beberapa hari penggunaan karena adanya bug kecil yang sangat mengganggu.

Mostly-ready game engines.

Engine engine ini biasanya sudah menyediakan semuanya begitu diberikan pada developer / programmer. Semuanya termasuk contoh GUI, physiscs, libraries model dan texture, dan segalanya. Banyak dari mereka yang sudah benar benar matang, sehingga dapat langsung digunakan untuk scripting sejak hari pertama.

Biasanya game engine semacam ini memiliki batasan batasan, terutama jika dibandingkan dengan game engine sebelumnya yang benar benar terbuka lebar. Hal ini ditujukan agar tidak terjadi terlalu banyak error yang mungkin terjadi setelah sebuah game yang menggunakan engine ini dirilis, dan masih memungkinkan game engine nya itu sendiri untuk mengoptimalkan kinerja game nya. Banyak dari game engine seperti ini, Unreal Engine, Source Engine, id Tech Engine dan sebagainya, yang sudah sangat optimal dibandingkan jika harus membuat dari awal. Hal ini dengan serta merta menyingkat sangat banyak waktu dan jelas, biaya dari para Developer game.

Point-and-click engines.

Engine untuk point-and-click merupakan engine yang sangat amat dibatasi, tapi dibuat sangat user friendly. Kamu bahkan bisa mulai membuat game mu sendiri menggunakan engine seperti GameMaker, Torque Game Builder dan Unity3D. Dengan sedikit memanfaatkan coding, kamu sudah bisa merilis game point-and-click yang kamu banget.

Kekurangannya terletak pada terbatasnya jenis interaksi yang bisa dilakukan, dan biasanya hal ini mencakup semuanya, mulai dari grafis, hingga tata suara. Tapi bukan berarti game engine jenis ini nggak berguna, bagi developer cerdas dan berdaya kreativitas tinggi, game engine bapuk seperti ini bisa dirubah menjadi sebuah game menyenangkan, seperti Flow. Game engine seperti ini memang ditujukan bagi developer yang ingin menyingkat waktu pemrogramman, dan secepatnya merilis game game mereka.

Macam – macam Game Engine

· Freeware game engine/open source game engine

- Blender

- Golden T Game Engine (GTGE)

- DXFramework

- Ogre

- Box2

- jMonkeyEngine (jME)

· Commercial engines/game engine berbayar (komersial)

- Alamo

- A.L.I.V.E

- BigWorld

- DXStudio

- Dunia Engine

- Euphoria

- GameStudio

- Jade Engine

- Jedi

- - RPG Maker VX

- RPG Maker XP

- RPG Maker 2003

- RPG Maker 95

- Vision Engine

Perbandingan 2 game engine :

Freeware :

Blender

Keuntungan :

Kelebihan yang dimiliki Blender adalah dapat membuat game tanpa menggunakan program

tambahan lainnya, Karena Blender sudah memiliki “Engine Game” sendiri dan menggunakan “Python”

sebagai bahasa pemograman yang lebih mudah ketimbang menggunakan C++,C, dll.

Blender menggunakan “OpenGL” sebagai render grafiknya yang dapat digunakan pada

berbagai macam “OS” seperti Windows, Linux dan Mac OS X. Gambar berikut merupakan sebuah

“screenshot” dari salah satu project game yang dibuat menggunakan Blender

Sekarang ini Blender merencanakan sudah mengeluarkan versi yang terbarunya, yaitu Versi 2.49

yang lebih ditujukan untuk pembuat game. Karena Versi ini memiliki fitur-fitur baru yang dirancang

untuk membuat tampilan game yang lebih realistis dari pada versi sebelumnya.

Blender 2.49 memiliki fitur baru seperti :

* Video Texture

* Real-time GLSL Material

* Game Logic

* Bullet SoftBody

* Python Editor

* Multilayer Textures

* Physics

* Render Baking dan Normal Mapping dan masih banyak yang lainnya.

* Composite Adalah tempat menambahkan efek visual seperti pada gamabar berikut.

Untuk membuat game di Blender anda tidak perlu jago pemograman, jika anda hanya ingin

membuat game sederhana anda cukup mempelajari tool-tool yang disediakan oleh blender tanpa harus menggunakan “script” sedikitpun.

Kerugian :

kekurangan blender hanya 1, gui nya agak susah di mengerti (mungkin hanya butuh waktu untuk membiasakannya).

Golden T Game Engine yang disingkat GTGE yang merupakan salah satu game engine buatan Indonesia, memiliki banyak keunggulan dalam pembuatan game java 2 Dimensi, diantaranya :

Penggunaan class-classnya mudah, sehingga ketika kita mendevelop suatu game, kita tidak harus memikirkan misal kita ingin menjalankan suara, tidak usah pusing-pusing sampe pake class-class dasar Java seperti membaca file audio.

Karena berbasis Java yang slogannya “Build once run everywhere”, jadi bisa digunakan untuk banyak platform, seperti : Microsoft Windows, Linux, Mac OS X.

Nggak pake bayar, alias gratis, dengan lisensi GNU Lesser General Public License (LGPL).

Merupakan high level interface library, kita saat mendevelop game, kita nggak usah capek-capek mikir class yang dasar-dasar (low level interface library).

Udah support OPENGL..

Juga yang paling penting dalam game yaitu Collision.

Komersial :

Adobe Flash (Swift3D)

Kelebihan Swift3D

Merupakan tool yang simpel, tidak ribet, tinggal drag and drop.

Swift3D mendukung animasi objek 3D.

Animasi dapat diexport ke banyak file, misal avi, flv, swf, swt, dan ai.

Kita dapat memilih jenis rendering yang kita inginkan, yaitu raster (bitmap) dan vector. Jenis gambar raster lebih lama saat me-render, akan tetapi hasilnya lebih bagus. Sedang untuk vector, gambarnya satu warna atau gradasi warna vector (cocok untuk dimasukkan pada animasi vector flash).

Jika kita ingin membuat model yang simpel, maka swift3D bisa digunakan untuk membuatnya.

Kekurangan Swift3D

Sangat tidak cocok untuk membuat bentuk 3D yang kompleks. Jika ingin membuat bentuk 3D yang komplek kita harus menggunakan 3dsmax atau blender kemudian kita export dalam bentuk 3ds.

Susah untuk membuat animasi sendiri selain dari template animasi dari swift3D.

Kita tidak dapat memberikan efek pada objek, misal efek noise dll.

Jika kita ingin membuat sprite game berisikan animasi, mungkin cocok digunakan swift3D karena mengingat jika kita menggunakan 3D pada flash dengan engine seperti papervision3D, away3D, sandy3D, maka akan bertambah berat.

Referensi :

http://oktaviawulan.blogspot.com/2010/03/Game-Engine.html

http://iddev.wordpress.com/2009/08/27/kelebihan-dan-kekurangan-swift3d/


Kamis, 11 Maret 2010

Resensi Game Call of Duty: Modern Warfare 2

Call of Duty: Modern Warfare 2



game
Spesifikasi

Genre

First Person Shooter

Rilis

10/11/2009

Developer

Infinity Ward

Publisher

Activision

ESRB Rating

Remaja

Available on

PC, PlayStation 3, Xbox 360



Selama bertahun-tahun lamanya, franchise Call of Duty tidak pernah kehilangan sentuhannya, terutama dalam genre permainan yang diusung oleh franchise ini yaitu First-person shooter dan belum lagi ditambah dengan elemen permainan yang penuh aksi. Bahkan bisa dikatakan juga bahwa franchise yang satu ini telah menjadi pelopor untuk game-game lain yang pernah ada dan membawakan tema yang sama. Jadi, saat Infinity Wards memutuskan untuk beralih dari era Perang Dunia II ke era yang lebih modern (dalam Modern Warfare), terlihat adanya perubahan yang cukup drastis.

game


Semuanya itu dimulai dari dihilangkannya elemen sejarah yang ada dalam game tersebut dan ditambah lagi dengan sejumlah karakter-karakter baru serta mengikutsertakan elemen-elemen dunia militer paling mutakhir dalam game ini. Sekarang, setelah waktu yang cukup lama untuk menantikan game yang satu ini, pertanyaan pun muncul. Apakah game ini memang pantas untuk dinanti-nantikan? Setelah kami mencoba game yang satu ini, kami harus mengatakan bahwa memang seluruh penantian itu cukup pantas.

Modern Warfare 2 bisa dikatakan sebagai franchise dari Call of Duty yang paling tidak tradisional dengan inti permainan yang dipecah menjadi tiga bagian. Bagi yang lebih suka memainkan game ini sendirian, ada mode main campaign. Apabila kamu merupakan tipe gamer yang lebih suka memainkan game ini dengan bekerjasama dengan teman yang lain, kamu bisa menemukan mode Spec Ops yang baru disini dan tentu saja tidak kalah serunya adalah mode multiplayer yang telah kembali dan bahkan menjadi lebih baik lagi dibandingkan dengan sebelumnya. Sebenarnya, cukup banyak konten yang patut untuk dirasakan sendiri permainannya, tapi mengingat setiap mode merupakan sebuah mode yang berdiri sendiri, maka kamu akan mendapatkan tiga sensasi permainan yang berbeda dalam satu game yang sama.

game


Untuk hal pertama yang akan kami bahas adalah mode campaign atau mode single-playernya. Perlu diakui, untuk yang satu ini termasuk salah satu game yang paling menegangkan yang pernah kami rasakan. Kamu bisa langsung merasakan sendiri seberapa banyakkah perkembangan yang dialami oleh game ini hanya dengan melihat pada seluruh lokasi yang ditunjukkan dalam game ini seperti favela yang ada di Rio de Janeiro, gunung bersalju yang terletak di Russia, jalanan penuh debu yang ada di Afghanistan dan masih banyak lagi lokasi lainnya yang akan kamu temukan. Dalam segi grafik, Modern Warfare 2 ini telah banyak mengalami peningkatan, mulai dari lingkungan sekitar yang terlihat lebih detil, efek cuaca yang disertakan, adanya objek yang bisa kamu hancurkan dan seluruh elemen aksi dan kekacauan yang disajikan. Bahkan suarapun menjadi salah satu titik positif yang ada pada game ini.

Tapi sayang sekali, mode campaign yang diberikan oleh game ini terlalu pendek. Dulu saat kami memainkan Call of Duty 4, kami membutuhkan waktu sekitar yang cukup lama untuk bisa menyelesaikan permainan ini dan semakin sulit tingkatan kesulitan yang kamu gunakan, maka akan semakin lama pula waktu yang kamu butuhkan untuk menyelesaikan game ini. Tapi tidak halnya untuk Modern Warfare 2. Untuk permainan pertama kali, kami hanya membutuhkan waktu sekitar 5-6 jam untuk menyelesaikan seluruh campaign yang diberikan. Harus diakui bahwa keadaan dalam Modern Warfare 2 memang jauh lebih kacau dan semuanya itu bisa dikatakan berkat adanya efek visual baru yang digunakan dan ditambah juga dengan AI musuh yang tinggi serta desain skenario yang menyulitkan membuat game ini semakin terasa menantang.


game

Untunglah game ini tidak memiliki masalah yang ada pada pendahulunya dimana musuh akan terus muncul tiada habisnya. Selama permainan, kamu akan dibimbing oleh sebuah penunjuk yang akan memberitahukan kepada kamu arah mana saja yang harus kamu tempuh. Tambahan lagi, bahkan percakapan yang ada dalam permainan ini terdengar sangat realistis dan menakjubkan. Saat rekan seperjuangan kamu (dalam game) meneriakkan sebuah kalimat kode, maka itu pula yang harus kamu awasi dengan cermat. Contoh, saat teman kamu mengatakan bahwa ada musuh di belakang sebuah kendaraan, maka di sana pasti ada musuh yang sedang menunggu. Jadi kali ini, seluruh percakapan yang kamu dengar sudah bukan hanya sekedar penghias saja. Hanya saja ini bukan berarti semuanya itu akan menghilangkan salah satu masalah yang sering kamu temukan, yakni gerakan dari AI kawan yang sering sekali menghalangi kamu. Tapi paling tidak, untuk yang kali ini semuanya terasa jauh lebih baik apabila dibandingkan dengan Modern Warfare.

Satu lagi elemen yang juga tidak kalah pentingnya dalam permainan ini adalah cara mereka menceritakan kisah dalam game ini. Walau kali ini sudah tidak ada lagi sejarah yang bisa dijadikan sebagai penopang jalan cerita, Infinity Wards mampu menyajikan sebuah jalan cerita yang menarik, menyentuh dan mudah untuk diikuti. Hanya saja, ada satu kelemahan yang dimiliki oleh Infinity Wards. Itu adalah kecenderungan mereka untuk menganggap bahwa setiap gamer yang memainkan ini sudah mengetahui siapa-siapa saja karakter yang ada dalam game dan otomatis meminta kamu untuk mengetahui sendiri jalan cerita yang ada. Selain itu, ada cukup banyak persenjataan yang bisa kamu gunakan dalam permainan ini dan konsep permainan yang sangat mendukung permainan. Walau pada akhirnya, seluruh permainan ini masih akan tetap kembali lagi pada satu titik utama setiap permainan dengan genre yang sama, yakni mengikuti perintah yang diberikan dalam permainan ini dan selesaikan dengan baik tanpa terbunuh.


game

Sejauh yang bisa kami utarakan untuk game ini, Modern Warfare memang lebih akan lebih seru apabila dimainkan bersama-sama dengan teman ataupun dimainkan secara online dalam mode Spec Ops. Mode Spec Ops (kependekan dari Special Operations) merupakan sebuah mode yang mirip dengan arcade dimana kamu bisa memainkan mode ini sendirian saja, walau sebenarnya game yang didesain untuk dimainkan oleh dua orang ini baru akan terasa lebih sedikit mudah apabila dimainkan bersama dengan teman kamu.

Kami yakin mode yang satu ini pasti akan membuat para Kotakers sekalian ketagihan dan sulit untuk melupakan permainan ini. Mode yang satu ini justru lebih lama apabila dibandingkan dengan mode single-player yang diberikan dan juga merupakan versi upgrade besar-besaran dari versi Arcade Mode Modern Warfare pertama. Nah, seperti yang sudah kami katakan sebelumnya, mode ini memang didesain secara khusus untuk dimainkan oleh dua orang secara bersama-sama dan hal itu memang terbukti sangatlah penting. Ada satu waktu dimana kamu akan diminta untuk mengendalikan sebuah helikopter dan juga senapan mesin yang ada pada helikopter untuk membantu satu lagi pemain lain yang sedang dikepung oleh musuh. Kamu harus bisa membantu teman kamu agar tidak terbunuh oleh prajurit musuh dan semuanya itu tidak akan bisa dilakukan dengan sukses apabila kamu tidak bekerja sama dengan teman kamu.


Sedangkan untuk mode permainan online, apa lagi yang bisa kami katakan? Kali ini seluruh hal yang ada dalam mode ini terlihat begitu sempurna dan nyaris tanpa cela. Banyak sekali efek-efek yang diberikan dalam mode ini, ledakan-ledakan mobil serta banyaknya peralatan elektrik yang akan kamu temukan disini terasa seperti asli. Tidak heran mengingat memang ada satu tim khusus dari Infinity Wards yang menangani mode yang satu ini secara spesifik.

Infinity Wards juga telah mencoba untuk menyeimbangkan permainan dalam game ini dengan mendengarkan masukan dari para gamer yang telah memainkan Modern Warfare pertama. Sistem kelas telah kembali, begitupula halnya dengan sejumlah senjata serta perlengkapan lain yang akan menjadi salah satu daya tarik game ini. Mungkin bisa kami katakan mode online dalam Modern Warfare 2 ini merupakan mode online yang paling seimbang yang pernah kami mainkan selama ini, karena setiap gamer pasti akan memiliki perannya tersendiri dan mereka akan berkontribusi bagi timnya dengan caranya sendiri-sendiri.


Komentar terakhir dari kami, Call of Duty: Modern Warfare 2 adalah salah satu game first-person shooter terbaik yang pernah kami mainkan selama ini dan seluruh aspek yang diberikan dalam game ini terasa sempurna. Sayang, semuanya ini tidak didukung dengan adanya sebuah dedicated server yang menurut kami merupakan kesalahan terbesar yang dilakukan oleh pihak Infinity Wards. Ditambah lagi, mode single-player yang disediakan juga terasa pendek (selesai hanya dalam waktu sekitar 3-5 jam saja). Walau demikian, game ini memang benar-benar spektakuler. Walaupun memiliki beberapa kekurangan, tapi game ini masih tetap merupakan sebuah game fantastis yang tidak boleh dilepaskan begitu saja.

Sabtu, 21 November 2009


Tugas Pembuatan Gambar 3 Dimensi Dengan 3ds-max


GAMBAR :


VIDEO :



Senin, 19 Oktober 2009

Aplikasi 3 Dimensi



3D Studio Max adalah sebuah perangkat lunak grafik vektor 3-dimensi dan animasi, ditulis oleh Autodesk Media & Entertainment (dulunya dikenal sebagai Discreet and Kinetix. Perangkat lunak ini dikembangkan dari pendahulunya 3D Studio fo DOS, tetapi untuk platform Win32. Kinetix kemudian bergabung dengan akuisisi terakhir Autodesk, Discreet Logic.3ds Max adalah salah satu paket perangkat lunak yang paling luas digunakan sekarang ini, karena beberapa alasan seperti penggunaan platform Microsoft Windows, kemampuan mengedit yang serba bisa, dan arsitektur plugin yang banyak. Keunggulan 3D Studio Max adalah kemampuannya untuk menampilkan hasil rendering dan menyajikan rancangan dalam bentuk 3 dimensi menyerupai keadaan sebenarnya. Rendering adalah proses menangkap segala sesuatu yang ada di dalam scene termasuk geometri, material, cahaya, lingkungan serta efek-efek yang terdapat didalamnya dengan menyimpannya menjadi sebuah file dengan format tertentu yang kita inginkan, entah itu berupa jpeg, avi, png dll. Disini adalah cara merender sebuah gambar sederhana berupa : Teapot dengan menggunakan box skilight dan omni (sebagai penerangan), dan text. Dan perender yang akan kita gunakan adalah scanline, karena secara default ( keumuman tampilan 3DS MAX ketika kita membukanya sebelum diedit/diubah) adalah menggunakan scanline renderer. Gambar-gambar dibawah ini adalah hal-hal penting saja yang perlu diperhatikan ketika akan merender dan untuk lebih detailnya silahkan Anda buka template tersebut.
  • Diantara hal-hal penting yang harus diperhatikan ketika akan merender (scanline renderer) pada sample template pada kali ini : Anda klik render scene (atau tekan f10), lalu pilih advanced lighting- pilih light tracer. Lihat gambar dibawah...!!

  • Lalu Anda klik/aktifkan lampu omni pada viewport (sehingga berwarna putih), lalu klik tombol modify (sebelah kanan atas yang bersebelahan dengan create) untuk memunculkan parameternya. Bila sudah muncul maka atur multipliernya sesuai kebutuhan misalnya gunakan template 4.


  • Lalu aktifkan (kasih tanda centang) Shadow agar on/aktif. Bila tidak diaktifkan maka bayangan object anda tidak akan terrender alias tanpa bayangan sehingga akan tampak tidak realistis. Dan silahkan Anda pilih jenis bayangannya, sebagai contoh : Ray trace shadows. Silahkan dicoba-coba sendiri untuk mengetahui karakter masing-masingnya. Lihat gambar dibawah..!!

  • Lalu Anda kurangi densitas shadownya dari 1 menjadi 0.5 agar tidak terlalu gelap.

  • Untuk merender, Silahkan Anda cari sudut pandang yang sesuai pada viewport perspektif sebagai misal, sesuai yang anda inginkan terhadap object. Bila telah siap, tekan F10 untuk memunculkan "render scene", lalu pastikan bahwa dibagian bawah render scene, pada tampilan viewport terpilih tercantumkan "perspektif"/viewport mana yang ingin Anda render. Kemudian Anda tinggal tekan Render ( untuk cara cepat tekan F9). Maka akan tertampilkan sebuah kondisi kurang lebih seperti gambar dibawah ini: